Klaster Industri Sawit, Butuh Investasi Besar

E-mail Print PDF

Untuk pengembangan klaster industri kelapa sawit di Indonesia, pemerintah memperkirakan perlu investasi triliunan rupiah. Sebab, untuk klaster industri sawit Riau saja, butuh dana sekitar Rp 35-55 triliun.

Investasi itu diperlukan untuk percepatan pembangunan pembangkit listrik, infrastruktur, dan pelabuhan di Dumai dan Kuala Enok. Dananya akan diusahakan melalui skema public private partnership (PPP) yang disertai pemberian insentif bunga oleh pemerintah.

Jumlah itu terdiri dari Rp 30-40 triliun untuk investasi pengembangan kawasan Kuala Enok. Untuk Dumai, diperlukan dana sebesar Rp 15 triliun. Kebutuhan investasi untuk Dumai memang lebih sedikit ketimbang kebutuhan untuk klaster industri Kuala Enok. Pasalnya, klaster industri di Dumai sudah terhitung lebih siap.

Besaran investasi di Kota Dumai yang kini telah memiliki 105 perusahaan, baik melalui penanaman modal asing (PMA) maupun modal dalam negeri (PMDN), telah mencapai Rp 14,6 triliun. Jumlah tenaga kerja juga telah mencapai 14.104 tenaga kerja lokal dan 282 tenaga kerja asing.

Sementara, di kawasan industri Pelintung, Dumai, kini sudah terbangun sembilan proyek industri hilir. Di kawasan yang sebagian besar menjadi wilayah operasional PT Wilmar Bioenergi Indonesia itu, sudah terbangun industri pengolahan minyak goreng, pupuk, dan biodiesel. Infrastruktur jalan pun sudah terbangun, sebagian dari bandara hingga ke lokasi sentra kawasan industri.

Sementara itu di luar skema PPP tersebut, untuk tahap awal, tahun ini pemerintah akan mulai melakukan studi pengembangan industri hilir oleokimia dengan menyediakan anggaran Rp 1,2 triliun. Rencana ini juga sudah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2009-2014.

Melalui studi pengembangan, pemerintah akan mengkaji pengembangan CPO hingga produk turunan ketiga. Untuk produk non-pangan yang berasal dari olahan fatty alkohol dan fatty acid. Keduanya merupakan produk turunan kedua, antara lain sabun, lilin, dan kosmetik.

 

Dumai Jadi Fokus Utama

Pemprov Riau melalui Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah (BPMPD) menegaskan, kalau Dumai akan diprioritaskan untuk pengembangan klaster industri hilir kelapa sawit di Riau. Untuk diketahui, berdasarkan keputusan pemerintah pusat, di Riau terdapat dua wilayah yang dicanangkan untuk pengembangan klaster industri sawit berbasis pertanian. Kedua wilayah tersebut yaitu Dumai dan Kuala Enok, Indragiri Hilir (Inhil).

Kepala BPMPD Riau, Feizal Qomar Karim kepada riaubisnis.com mengatakan, untuk mengembangkan kedua wilayah tersebut dalam waktu bersamaan sangat sulit. Karena dana yang dibutuhkan sangat besar.

Selain itu, Feizal juga menilai Dumai lebih realisitis untuk dikembangkan sebagai klaster industri. Sebab Dumai ditunjang dengan infrastruktur yang lebih memadai dibandingkan dengan Kuala Enok. Ini juga akan menjadi pertimbangan bagi investor.

“Kita maunya dibangun bersamaan. Namun melihat dan membandingkan kedua daerah tersebut, saat ini Dumai kita nilai lebih layak. Namun pemerintah akan tetap menyiapkan infrastruktur penunjang di Kuala Enok,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan investasinya, kata Feizal, Pemprov Riau akan tetap menawarkan kedua daerah tersebut kepada investor. Saat ini, ada investor dari Yaman yang tertarik untuk membangun klaster sawit di Dumai.

Tapi untuk pengembangannya, kata Feizal, akan butuh banyak investor. Dia juga menegaskan akan sangat wellcome dengan investor yang mau menanamkan modalnya di dua daerah tersebut. “Tentu saja kita terbuka dengan keinginan investor, apalagi untuk membangun klaster kita butuh banyak investor dan nilai investasinya juga cukup besar,” katanya.

Namun ia menegaskan, dana sekitar Rp 30-an triliun yang disebutkan sebelumnya, itu hanya untuk pembangunan infrastruktur pendukung. Seperti jalan, listrik dan air bersih. “Kalau untuk klasternya tidak akan sampai sebesar itu,” ungkapnya.

Feizal juga mengharapkan dukungan semua pihak untuk proses tersebut. Meski tidak mudah, namun dirinya yakin klaster tersebut akan jadi. “Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat, perlu waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Sebelumnya, mantan Kepala Disperindag Riau Herliyan Saleh mengatakan, dana terbesar yakni mencapai Rp 11,45 triliun adalah untuk program peningkatan jalan dan jembatan. Infrastruktur lainnya adalah pembangunan rel kereta api yang mencapai Rp 9,45 triliun, peningkatan pelabuhan laut Rp 3,15 triliun, pembangunan air bersih dan pembangkit listrik masing-masing Rp 2,3 triliun, sanitasi Rp 1,4 triliun dan pembangunan sumber daya manusia Rp 475 miliar.

“Pembangunan jalan seperti penyempurnaan ruas jalan lingkar Riau. Sedangkan pembangunan rel kereta api digunakan sebagai transportasi pengangkut tandan sawit yang akan menghubungkan pelabuhan Kuala Enok-Pekanbaru-Dumai dan menyambungkan ke kawasan industri Buton, juga ke Sumatera Utara,” terangnya.

Perihal pembiayaan, lanjutnya, direncanakan untuk menggunakan skema sharing dari APBD, APBN dan swasta. “Dengan adanya konsep industri hilir sawit yang fokus dan mantap, diharapkan hal ini akan menarik bagi pihak swasta dan investor asing,” katanya.

 

Yaman Tertarik untuk Berivestasi

Meski baru sebatas pencanangan, namun pemerintah pusat telah mengkonfirmasi ada investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya, untuk membangun serta mengembangkan klaster industri sawit yang ada di Indonesia, khususnya di Dumai.

Grup perusahaan multinasional asal Yaman misalnya, berminat untuk menjadi investor pengembangan klaster industri hilir  di Dumai, Riau. Namun hingga kini belum ada kepastian dari pemerintah, sejauh mana ketertarikan pihak Yaman untuk menanamkan modalnya.

Sebab Kepala BPMPD Riau Feizal Qomar Karim menegaskan, untuk pembangunan klaster tersebut tidak mungkin mengandalkan kemampuan anggaran pemerintah saja. Maka, kata dia, perlu dipersiapkan studi bisnis dan masterplan pembangunan klaster itu sendiri. Sehingga dengan adanya feasibility study (FS), akan sangat memungkinkan untuk menarik investor menanamkan modalnya.

“Ini yang sedang kita lakukan, bagaimana caranya untuk menarik investor menanamkan modal. Karena dengan kemampuan anggaran daerah tidak mungkin sanggup untuk membangunnya,” ujar Feizal.

Mantan Kepala Disperindag Riau Herliyan Saleh juga mengatakan, terkait rencana pengembangan klaster tersebut, akan ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan. Seperti studi pengembangan klaster industri hilir kelapa sawit di Provinsi Riau.

”Kita juga mendukung mendukung Kementerian Perindustrian dalam menyiapkan payung kebijakan nasional terhadap pengembangan klaster industri hilir kelapa sawit nasional di Riau, serta sosialisasi  kepada seluruh stakeholder di Riau,” ujarnya.

 

Rekapitulasi Usulan Pembangunan Infrastruktur dan SDM bagi Klaster Industri Kelapa Sawit

No

Kegiatan

Biaya (Rp)

1

Program Peningkatan/Pembangunan Jalan dan Jembatan

11.450.000.000.000

 

2

Program Peningkatan/Pembangunan Pelabuhan Laut

3.150.000.000.000

 

3

Program Pembangunan Jalan Rel

9.450.000.000.000

4

Program Pengembangan dan Pembangunan Air Bersih

2.300.000.000.000

 

5

Program Pembangunan Pembangkit Energi Listrik

2.300.000.000.000

6

Program Penyehatan Lingkungan dan Sanitasi

1.400.000.000.000

7

Program Pengembangan Sumber Daya Manusia

475.000.000.000

          Total

30.525.000.000.000

Sumber: Disperindag Riau.

 

Tim Riaubisnis.com | Edited by Mukhtar

 

TRANSLATE
Klaster Industri Sawit, Butuh Investasi Besar
Klaster Industri Sawit, Butuh Investasi Besar
 
 

 


 


 


 


 


Copyright © 2010 RiauBisnis.com Portal News
Sosialisasi Izin Lingkungan
Headline
  • Pause
  • Previous
  • Next
1/5
 

Majalah Venues Online