Pemprov Riau melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Riau mendukung penuh rencana PT Pengembangan Investasi Riau (PIR) untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 3x14 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 2x45 MW.
Kepala Distamben Riau, Abdul Lafiz yang dikonfirmasi wartawan, Senin (19/4/2010) di kantor Gubernur Riau mengungkapkan kalau pihaknya sangat mendukung rencana tersebut. Apalagi rencana tersebut diharapkan bisa mengatasi defisit listrik di Riau.
“Tentu saja kita sangat mendukung upaya dari PT PIR membantu mengatasi krisis listrik di Riau. Apalagi kebutuhan listrik Riau sangat besar, sementara saat ini elektrifikasi di Riau hanya sekitar 40 persen,” ujarnya.
Namun Lafiz tidak menjelaskan secara penuh seperti apa nantinya dukungan yang akan diberikan. Yang jelas menurutnya, pihak Distamben akan memberikan bantuan untuk mendukung rencana tersebut. kalaupun ada masalah pihaknya juga akan turut membantu menyelesaikan.
“Yang jelas jika mereka (PT PIR-red) butuh bantuan kita akan bantu, begitu juga dalam prosesnya ada hambatan dan masalah kita juga akan berusaha bersama-sama mencarikan jalan keluarnya,” ujar Lafiz.
Sebelumnya seperti diberitakan riaubisnis.com, untuk mempercepat proyek tersebut, konsorsium PT PIR dengan PT Zug Industry Indonesia (ZII) menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.
MoU yang diteken Ketua Konsorsium PIR-ZII Rida K Liamsi dan Direktur Utama PT PGN Hendi Prio Santoso, di Hotel Nikko Jakarta, Kamis (15/4/2010) itu, berisi rencana jual beli gas sebesar 50 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Day). Penandatanganan MoU tersebut disaksikan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Herawati Legowo, Gubernur Riau HM Rusli Zainal.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Riau, HM Rusli Zainal mengungkapkan, suplai gas dari PGN ini diharapkan dapat menjawab krisis energy di Riau. Sebab saat ini rasio elektrifikasi di Riau hanya 42 persen, masih jauh di bawah rasio elektrifikasi nasional sebesar 60 persen. “MoU ini merupakan dukungan yang luar biasa untuk penyediaan energy bagi Riau,” ujarnya.
Apalagi kebutuhan energi listrik Riau ke depan semakin besar. Sebab Riau memiliki dua kawasan strategis nasional yaitu KEK Dumai dan klaster industry hilir kelapa sawit di Dumai, Buton dan Kuala Enok. “Pada tahun 2015 nanti kita masih butuh listrik 1.500-2.000 MW di luar listrik non captic PLN yang ada sekarang ini,” paparnya. (*)
Mukhtar, Badri | Edited by Rbc



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






