Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Said Hartono mengakui, lambatnya pertumbuhan BPR pada semester pertama tahun ini. Dia mengatakan, BPR sedang terus berupaya mengembangkan diri untuk menghadapi persaingan yang ketat dengan bank-bank umum, baik nasional maupun asing.
Berdasarkan data BI, total aset BPR hingga Juni 2010 naik 7,48 persen menjadi Rp 40,72 triliun dari Januari 2010 sebesar Rp 37,89 triliun. Di satu sisi, Perbarindo terus berupaya mengembangkan diri dengan melakukan sindikasi dan lebih fokus pada segmen usaha mikro.
"Selama ini persaingan sangat tajam, dan pangsa pasar kami sudah tergerus diambil bank-bank umum. Sekarang kami sedang terus kembangkan diri dengan membuat sindikasi antar-BPR dan mencoba lebih fokus pada usaha mikro," katanya Said, di Jakarta, akhir pekan lalu, seperti dilansir Bisnis.com.
Said menilai, linkage program yang ada juga tidak berjalan dengan baik. Kebanyakan bank umum melakukan linkage program hanya untuk melihat bagaimana strategi untuk masuk ke segmen usaha mikro, kecil, dan menangah (UMKM). Namun, setelah itu mereka memilih menyalurkan kredit langsung ke segmen tersebut.
"Linkage program juga kurang berkembang. Karena kebanyakan bank umum, setelah mengetahui celahnya, mereka membuat program dan produk sendiri untuk menyalurkan kredit ke UMKM," katanya.
Said mengatakan, sebenarnya masih ada sektor yang belum banyak digarap perbankan yaitu pertanian dan nelayan. "Lebih baik bank-bank umum menggarap sektor tersebut dan memberikan sektor perdagangan digarap oleh BPR," sarannya.
Dia berharap, Bank Indonesia bisa lebih tegas dalam mengatur batasan segmentasi bank umum dan BPR yang ada. Selama ini BI memang menghimbau bank umum untuk masuk ke UMKM melalui BPR.
“Namun, hal itu kurang berpengaruh. Kami ingin BI bisa tegas mengatur, sehingga ada kejelasan segmentasi, karena lahan kami semakin habis (bersaing dengan bank umum)," sindirnya.(*)
Parlindungan | Edited Rbc









