PT Pengembangan Investasi Riau (PIR) berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 3x14 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 2x45 MW, untuk mendukung pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XVIII tahun 2012 dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Dumai. Untuk mempercepat proyek tersebut, konsorsium PT PIR dengan PT Zug Industry Indonesia (ZII) menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.MoU yang diteken Ketua Konsorsium PIR-ZII Rida K Liamsi dan Direktur Utama PT PGN Hendi Prio Santoso, di Hotel Nikko Jakarta, Kamis (15/4/2010) itu, berisi rencana jual beli gas sebesar 50 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Day). Penandatanganan MoU tersebut disaksikan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Herawati Legowo, Gubernur Riau HM Rusli Zainal.
Hadir pada acara itu, Anggota DPR RI dari Riau Idris Laena, anggota DPD RI dari Riau Abdul Gafar Usman, Dirut PT Chevron Pacific Indonesia Abdul Hamid Batubara, Sekda Riau Wan Syamsir Yus, serta sejumlah pejabat pusat dan daerah.
Setelah penandatanganan MoU, Gubri Rusli Zainal mengungkapkan, suplai gas dari PGN ini diharapkan dapat menjawab krisis energy di Riau. Sebab saat ini rasio elektrifikasi di Riau hanya 42 persen, masih jauh di bawah rasio elektrifikasi nasional sebesar 60 persen. “MoU ini merupakan dukungan yang luar biasa untuk penyediaan energy bagi Riau,” ujarnya.
Apalagi kebutuhan energi listrik Riau ke depan semakin besar. Sebab Riau memiliki dua kawasan strategis nasional yaitu KEK Dumai dan klaster industry hilir kelapa sawit di Dumai, Buton dan Kuala Enok. “Pada tahun 2015 nanti kita masih butuh listrik 1.500-2.000 MW di luar listrik non captic PLN yang ada sekarang ini,” paparnya.
Meski yang disetujui dalam MoU baru 20 MMSCFD, Gubri berharap pihak PGN ke depan bisa menambah kekurangannya. “Kami sangat mengharapkan PGN nantinya bisa menambahkan pasokan gas sebesar 30 MMSCFD lagi. Karena kita nanti akan menyiapkan iinfrastruktur pembangkit listrik yang bisa digunakan untuk pasokan gas sebesar 50 MMSCFD,” ujarnya.
Terkait permintaan tambahan gas tersebut, Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H Legowo mengungkapkan, pihaknya akan membantu mencarikan solusi sehingga pasokan gas yang diminta oleh konsorsium terpenuhi. “Mudah-mudahan berikutnya bisa kita carikan solusinya. Acara ini sangat saya syukuri karena dengan keterbatasan kami, ESDM belum dapat memenuhi kebutuhan migas domestic secukupnya,” katanya.
Bahkan Evita juga berharap agar di Riau bisa dibangun pabrik biofuel, karena provinsi ini memiliki perkebunan kelapa sawit yang cukup luas. Apalagi regulasi pemerintah pada Juli 2010 nanti menetapkan tidak boleh ada solar yang tanpa kandungan biodiesel. “Akan sangat baik kalau ada investor di Riau yang mau membangun pabrik biofuel,” ujarnya.
Apalagi, pemerintah juga menjanjikan insentif khusus bagi investor yang membangun pabrik biofuel tersebut. “Insentif tersebut berupa pembebasan pajak penghasilan dan lain-lain. Karena kita mendukung pengembangan sumber energy terbarukan,” tegasnya.
Sementara itu Dirut PGN Hendi Prio Santoso menyatakan komitmennya untuk segera merealisasikan pasokan gas untuk konsorsium PT PIR-PT Zug Industry Indonesia. “Dengan dukungan alokasi gas insya Allah bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk PON 2012 dan KEK Dumai. Karena kami tidak akan berdiam diri,” ujarnya.
Bila pembangunan pembangkit dapat disiapkan, PGN juga berjanji akan segera mengalokasikan gas gas untuk konsorsium. “Jika pembangunan pembanghkit disiapkan, mudah-mudahan bisa siap dialokasikan pada tahun 2012,” imbuhnya.
Sedangkan Dirut PT PIR yang juga Ketua Konsorsium PT PIR-PT Zug Industry Indonesia Rida K Liamsi menyatakan, setelah penandatanganan MoU konsorsium PT akan segera membentuk sebuah perusahaan Perseroan Terbatas (PT) untuk mempercepat realisasi investasi di bidang kelistrikan. “Bila pada 2011 gas diperoleh diharapkan pada 2012 listrik sudah menyala. Gas tersebut untuk menghidupkan PLTG 3x14 MW dan PLTGU 2x45 MW yang berlokasi di Duri,” ujarnya.
Pihak konsorsium juga menargetkan, pada akhir April 2010 sudah terdapat Heads of Agreement (HoA). Kemudian pada akhir Juli 2010 Gas Sales Agreement (GSA) terealisasi. Perusahaan itu berencana akan komisioning enam bulan sebelum pelaksanaan PON XVIII tahun 2012 di Riau.
Dari informasi yang diperoleh riaubisnis.com, MoU tersebut antara lain dibuat untuk memfasilitasi proses penyusunan HoA dan atau Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara PGN dengan konsorsium PT PIR-PT Zug Industry Indonesia. Dimana, pihak perusahaan hasil konsorsium akan membeli gas dari PGN sesuai dengan spesifikasi yang disepakati. Jumlah pemakaian gas sendiri tergantung pada ketersediaan pasokan gas yang dialokasikan pemerintah.
Konsorsium PT PIR dan PT Zug Industry Indonesia dibentuk pada 19 Januari 2010 lalu. Tujuannya melakukan untuk pengembangan bisnis di bidang energi, gas, panas bumi, batubara, pertambangan dan pembangkit listrik. Konsorsium kemudian menunjuk PT PIR sebagai koordinator pelaksana pekerjaan konsorsium.
Untuk tahap awal, alokasi gas dari PGN sebesar 20 MMSCFD. Diperkirakan pasokan gas tersebut dapat menghasilkan energi listrik hingga 100 MW. Besarnya energi listrik tersebut diharapkan menyuplai kebutuhan listrik untuk pelaksanaan PON 2012. Kemudian juga untuk mendukung pengembangan KEK di Dumai, klaster industri hilir kelapa sawit, serta mengatasi krisis listrik yang kerap terjadi di Riau. (*)
Badri | Edited by Rbc



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 







